Tetralogy of fallot (ToF)

LAPORAN PENDAHULUAN
“TETRALOGI OF FALLOT”



BAB I
PENDAHULUAN
I.              Latar Belakang
Tetralogy of fallot (ToF) merupakan penyakit jantung bawaan sianotik yang terdiri dari empat kelainan khas, yaitu defek septum ventrikel (VSD), stenosis infundibulum ventrikel kanan atau biasa disebut stenosis pulmonal, hipertrofi ventrikel kanan dan overriding aorta (Ruslie & Darmadi, 2013). ToF termasuk bagian dari PJB (Penyakit Jantung Bawaan). Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui, biasanya melibatkan berbagai faktor. Namun Tetralogi of fallot ini timbul pada +/- 3-6 per 10.000 kelahiran dan menempati angka 5-7% dari kelainan jantung akibat congenital.
ToF ini jika tidak ditangani dengan tepat pada akhirnya akan mengembangkan trombosis pulmonal pada penderita di bawah 2 tahun, endokarditis bakterialis, polisitemia, abses otak, anemia relatif dan bahkan infark serebral (umur < 2 tahun).
Oleh karena itu, pemberian informasi kepada orang tua tentang kemungkinan besar anak menderita ToF akan sangat membantu mencegah peningkatan pravelensi penderita ToF tidak tertangani. Maka perlu dibahas lebih lanjut mengenai definisi, etiologi, faktor resiko, epidemiologi, patofisiologi,manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan, pencegahan dan komplikasi ToF.
II.           Batasan Topik
1.      Definisi
2.      Etiologi
3.      Faktor risiko
4.      Epidemiologi
5.      Patofisiologi
6.      Manifestasi klinis
7.      Pemeriksaan diagnostik
8.      Penatalaksanaan
9.      Pencegahan
10.  Komplikasi


BAB II
PEMBAHASAN
  1.   Definisi

Tetralogy of fallot (ToF) merupakan penyakit jantung bawaan sianotik yang terdiri dari empat kelainan khas, yaitu defek septum ventrikel (VSD), stenosis infundibulum ventrikel kanan atau biasa disebut stenosis pulmonal, hipertrofi ventrikel kanan dan overriding aorta (Ruslie & Darmadi, 2013) . Sebagai konsekuensinya, didapatkan adanya empat kelainan anatomi sebagai berikut :
·      Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel
·      Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan
·      Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri meluas ke arah sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan
·      Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karenapeningkatan tekanan di ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal
·(Ruslie & Darmadi, 2013)

 Klasifikasi
Berikut 4 klasifikasi diagnostik tetralogy of Fallot (TOF) dijelaskan:
1.    Tetralogi Fallot dengan absen sindrom katup pulmonal;
Tetralogi Fallot dengan absen sindrom katup paru adalah bentuk tetralogy of Fallot dengan katup paru parah displastik dan arteri pulmonalis nyata melebar. Lesi relatif jarang ini hanya mewakili 3-5% dari semua kasus tetralogy of Fallot. Tetralogi Fallot dengan katup paru absen umumnya terkait dengan kesulitan pernapasan. Masalah berat dengan oksigenasi dan terutama ventilasi yang dianggap berkaitan dengan kompresi bronkial sekunder untuk dilatasi arteri pulmonalis ditandai.
2.    Tetralogi Fallot dengan atrioventrikular umum (AV) canal;
Tetralogi Fallot dengan kanal AV umum (AV defek septum [AVSD]) adalah kehadiran kedua tetralogi Fallot dan AVSD lengkap. Lesi langka ini hanya mewakili 2% dari semua kasus Tetralogi of Fallot. Perbaikan bedah lengkap lesi ini lebih berisiko daripada perbaikan tetralogy of Fallot atau AVSD saja. Namun demikian, perbaikan lengkap gabungan mungkin dan biasanya berhasil.
3.    Tetralogi Fallot dengan atresia paru; dan
Tetralogi Fallot dengan atresia paru merupakan bentuk atresia paru dengan defek septum ventrikel (VSD) di mana anatomi intracardiac adalah tetralogi Fallot. Tetralogi Fallot dengan atresia paru umumnya terkait dengan cabang hipoplasia arteri paru dan mungkin terkait dengan arteri jaminan aortopulmonary utama (MAPCAs).
4.    Tetralogi Fallot dengan stenosis paru.
Tetralogi Fallot dengan stenosis paru adalah bentuk umum dari tetralogy of Fallot. Dalam kondisi ini, stenosis paru mungkin di subvalvar, valvar, atau tingkat supravalvar, atau mungkin melibatkan kombinasi dari 3 tingkat.
(Pettersen, 2014)

3.      Faktor resiko
Menurut Yayan Akhyar Israr (2010), faktor risiko tetralogi of fallot terdiri dari dua yaitu:
1.      Faktor endogen
·         Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom, contohnya down syndrome, marfan syndrome
·         Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan misalnya VSD, pulmonary stenosis, and overriding aorta
·         Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, kolesterol tinggi,  penyakit jantung atau kelainan bawaan.
2.      Faktor eksogen
·         Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine. aminopterin, amethopterin, jamu)
·         Ibu menderita penyakit infeksi : rubella
·         Efek radiologi (paparan sinar X)
·         Ibu mengonsumsi alcohol dan merokok saat mengandung.

Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab adalah multifaktor. Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
·           Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya
·           Gizi yang buruk selama hamil
·           Ibu yang alkoholik
·           Usia ibu diatas 40 tahun
·           Ibu menderita diabetes
Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down. Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis (Yayan Akhyar, 2010).


4.      Etiologi
Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui, biasanya melibatkan berbagai faktor. Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara pasti (Anderson, et al, 2002) . Namun, kemungkinan dapat disebabkan oleh multifaktor. Faktor – factor tersebut antara lain (Mansjoer, 2000) :
·         Faktor Endogen
ü  Berbagai jenis penyakit genetik : Kelainan kromosom
ü   Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung  atau kelainan bawaan
·         Faktor eksogen : Riwayat  kehamilan  ibu
ü   Gizi yang buruk saat hamil
ü  Sebelumnya  ikut program KB oral atau suntik, minum obat-obatan tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine, aminopterin, amethopterin, jamu)
ü  Ibu terinfeksi virus Rubella
ü  Pajanan terhadap sinar –X
Anak-anak dengan sindrom Down juga memiliki insiden yang lebih tinggi dari tetralogi Fallot, seperti halnya bayi dengan sindrom hydantoin janin atau sindrom carbamazepine janin. Pajanan terhadap faktor penyebab ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai (Anderson, et al, 2002).

5.      Epidemiologi
Tetralogi fallot menempati urutan keempat penyakit jantung bawaan pada anak, setelah defek septum ventrikel (VSD), defek septum atrium (ASD), dan duktusarteriosus persisten (PDA) atau lebih kurang 10-15% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Di antara penyakit jantung bawaan sianotik, tetralogi fallot merupakan 2/3nya.
Tetralogy of fallot timbul pada +/- 3-6 per 10.000 kelahiran dan menempati angka 5-7% dari kelainan jantung akibat congenital. Sampai saat ini para dokter tidak dapat memastikan sebab terjadinya, akan tetapi ,penyebabnya dapat berkaitan dengan factor lingkungan dan juga factor genetic atau keduanya. Dapat juga berhubungan dengan kromosom 22 deletions dan juga di George syndrome. Ia lebih sering muncul pada laki-laki daripada wanita. Pengertian akan embryology daripada penyakit ini adalah sebagai hasil kegagalan dalam conal septum bagian anterior, menghasilkan kombinasi klinik berupa VSD, pulmonary stenosis, and overriding aorta. Perkembangan dari hipertropi ventricle kanan adalah oleh karena kerja yang makin meningkat akibat defek dari katup pulmonal. Hal ini dapat diminimalkan bahkan dapat dipulihkan dengan operasi yang dini.  (Davies LK, Knauf DG, 2003).
Tetralogi Fallot terjadi pada 3-6 bayi per 10.000 kelahiran, dan merupakan penyebab tersering penyakit jantung congenital sianotik. Kebanyakan kasus, TOF bersifat sporadic dannonfamilial. Insidensi kejadian pada saudara atau orang tua yang terkena berkisar 1-5%, danterjadi lebih sering pada pria dibandingkan wanita.
Insidensi tetralogi fallot, yaitu berkisar 5,1% dari kelainan jantung congenital / bawaan. Factor prenatal yang dihubungkan dengan insidensi TOF tinggi termasuk : rubella maternal(atau infeksi virus lain) semasa kehamilan, nutrisi prenatal yang buruk, konsumsi alcoholmaternal, umur kehamilan lebih dari 40 tahun, defek kelahiran phenylketnuria (PKU) maternal,serta diabetes. Anak dengan down syndrome juga memiliki insidensi TOF yang lebih tinggi,begitu pula dengan bayi dengan sindrom fetal hydantoin atau fetal carbamazepin sindrom. (SC Greenway et al, 2007).
Penyakit jantung bawaan pada anak memang bukan penyakit langka. Di antara 1.000 anak lahir hidup di Indonesia, menurut data rumah-rumah sakit di Indonesia, 9 di antaranya mengidap penyakit jantung bawaan. Tetralogi fallot menempati urutan keempat tersering penyakit jantung bawaan pada anak, setelah defek septum ventrikel, defek septum atrium, dan duktus arteriosus patent atau lebih kurang 10-15% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Diantara penyakit jantung bawaan sianotik, tetralogi fallot merupakan 2/3 nya. Insiden tertinggi pada sindrom down (SC Greenway et al, 2007).

6.      Manifestasi

·      Salah satu manifestasi yang penting pada Tetralogi Fallot adalah terjadinya serangansianotik (cyanotic spells) yang ditandai oleh timbulnya sesak napas mendadak, nafascepat dan dalam, sianosis bertambah, lemas, bahkan dapat disertai dengan kejang, jaritabuh, polisitemia.
·      Episode peningkatan penyimpanagn darah dari pemintasan darah kanan ke kiri secaramendadak, merupakan ciri khas terjadinya anoksis (“blu spells”, “tes spel”).
·      Anak-anak dengan tetralogi of fallot sering berjongkok setelah mengalami kelelahanfisik. Mungkin posisi ini akan meningkatkan sistem resistensi vaskular ataumenurunkan besarnya pintas intrakardik kanan ke kiri.
·      Gangguan pertimbuhan gigi dan hipertrofi gusi, kelaianan ortopedi berupa skoliosis
·      Takipneu saat istirahat dan bertambah berat saat bekerja fisik sedikit saja
·      Vena jugukaris terisi penuh sehingga terlihat sedikit menonjol, hepar sedikitmembesar jka hepar ditekan vena jugularis akan tampak lebih berisi (hepatojugular reflux)
·      Auskultasi sangat khas => bisingnya 2 macam, yaitu bising sistolik keras dengan nadarendah dan bising sistolik ejeksi dengan nada sedang.
Tanda dan gejala tetralogi of fallot :
·      Sesak biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan)
·      berat badan bayi tidak bertambah
·      pertumbuhan berlangsung lambat
·      jari tangan seperti tabuh gendering/ gada (clubbing fingers)
·      sianosis/ kebiruan : sianosis akan muncul saat anak beraktivitas, makan/menyusu,atau menangis dimana vasodilatasi sistemik (pelebaran pembuluh darah di seluruhtubuh) muncul dan menyebabkan peningkatan suhu dari kanan ke kiri (right toleft shunt). Darah yang miskin oksigen akan bercampur dengan darah yang kaya oksigen dimana percampuran darah tersebut dialirkan ke seluruh tubuh. Akibatnya jaringan akan kekurangan oksigen dan menimbulkan gejala kebiruan. Anak akan mencoba mengurangi keluhan yang mereka alami dengan berjongkok yang justru dapat meningkatkan resistensi pembuluh darah sistemik karena arterifemoralis yang terlipat. Hal ini akan meningkatkan right to left shunt danmembawa lebih banyak darah dari ventrikel kanan ke dalam paru-paru. Semakin berat stenosis pulmonal yang terjadi maka akan semakin berat gejala yang terjadi.

Menurut kowalak (2002) manifestasi klinis dari Tetralogi Of Fallot dapat mencakup:
·         Sianosis yang merupakan tanda utama Tetralogi Of Fallot, sianosis terjadi karena shunt dari kiri ke kanan
·         Serangan sianotik atau “blue spells (tet spells)” yang ditandai dengan dispnea: pernafasan yang dalam dan menarik nafas panjang, brakikardia, keluhan ingin pingsan, serangan kejang, dan kehilangan kesadaran, yang semua ini dapat terjadi setelah pasien melakukan latihan, menangis, mengejan mengalami infeksi atau demam
·         Clubbing, penurunan toleransi tehadap latihan, peningkatan gejala dispnea d’effort, retardasi pertumbuhan dan kesulitan makan pada anak-anak yang besae sebagai akibat oksigenasi yang buruk
·         Berjongkok disertai nafas sesak untuk mengurangi aliran balik vena darah kotor dari tungkai dan untuk meningkatkan resistensi aliran sistemik
·         Bising sistolik yang keras dan terdengar paling jelas di sepanjang tepi kiri sternum, yang dapat mengurangi atau menyamarkan komponen pulmonar pada bunyi S2
·         Bising kontinu dari duktus arteriosus pada pasien paten duktus arteriosus yang lebar, bising ini dapat menyamarkan bising sistolik
·         Bunyi trill pada tepi sternum akibat aliran darah yang abnormal melalui jantung
·         Impuls ventrikel kananyang nyata dan sternum pars yang menonjol, gejala ini berkaitan dengan hipertrofi ventrikel kanan.
(Kowalak, 2002).

7.      Patofisiologi


8.      Pemeriksaan diagnostik
a.    Anamnesis
Pada pasien ToF biasanya terdapat keluhan utama sianosis dan pernafasan cepat. Selanjutnya perlu ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh pasien, kapan pertama kali munculnya sianosis, apakah sianosis ditemukan sejak lahir, tempat sianosis muncul, misalnya pada mukosa membrane bibir dan mulut, jari tangan atau kaki, apakah munculnya tanda-tanda sianosis didahului oleh factor pencetus, salah satunya aktivitas berlebihan atau menangis.
Riwayat serangan sianotik (hypercyanotic spell) juga harus ditanyakan kepada orangtua pasien atau pengasuh pasien. Jika anak sudah dapat berjalan apakah sering jongkok (squating) setelah berjalan beberapa langkah sebelum melanjutkan kembali berjalan. Penting juga ditanyakan factor risiko yang mungkin mendukung diagnosis  ToF yaitu seperti factor genetik, riwayat keluarga yang mempunyai penyakit jantung bawaan. Riwayat tumbuh kembang anak juga perlu ditanyakan, pemeriksaan tumbuh kembang dapat digunakan juga untuk mengetahui apakah terjadi gagal tumbuh kembang akibat perjalanan penyakit ToF  (Riska, 2013).
b.   PemeriksaanFisik
Sianosis sentral dapat diamati pada sebagian besar kasus ToF; desaturasi arteri ringan mungkin tidak menimbulkan sianosis klinis. Clubbing fingers dapat diamati pada beberapa bulan pertama kehidupan. Tanda-tanda gagal jantung kongestif juga jarang ditemukan, kecuali pada kasus regurgitasi pulmonal berat atau ToF yang dibarengi dengan tidak adanya katup pulmonal.5 Impuls ventrikel kanan yang lebih kuat mungkin didapatkan pada palpasi. Systolicthrill bisa didapatkan di perbatasan sternal kiri bawah. Murmur sistolik grade III dan IV disebabkan oleh aliran darah dari ventrikel kanan kesaluran paru. Selama serangan hypercyanotic spell muncul, murmur menghilang atau menjadi sangat lembut. Sama halnya pada ToFdengan atresia paru, tidak akan terdengar murmur karena tidak ada aliran darah balik ke ventrikel kanan. Aliran darah yang menuju atau melewati celah antar ventrikel tidak menimbulkan turbulensi, sehingga biasanya tidak terdengar kelainan auskultasi. Murmur ejeksi sistolik tergantung dari derajat obstruksi aliran darah di ventrikel kanan. Makin sianosis berarti memiliki obstruksi lebih hebat dan murmur lebih halus. Pasien asianotik denganToF (pinktet) memiliki murmur sistolik yang panjang dan keras dengan thrill sepanjang aliran darah ventrikel kanan. Selain itu bisa ditemukan klikejeksi aorta, S2 tunggal (penutupan katup pulmonal tidak terdengar). Sering pula pasien ToF mengalami skoliosis dan retinal engorgement (Riska, 2013).
c.    Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium darah dapat dijumpai peningkatan jumlah eritrosit dan hematokrit (polisitemia vera) yang sesuai dengan desaturasi dan stenosis. Oksimetri dan analisis gas darah arteri mendapatkan saturasi oksigen yang bervariasi, tetapi pH dan pCO2 normal kecuali pada kondisi tet spell. Oksimetri berguna pada pasien kulit hitam atau pasien anemia yang tingkat sianotiknya tidak jelas. Sianosis tidak akan tampak kecuali bila hemoglobin tereduksi mencapai 5 mg/dL. Penurunan resistensi vaskular sistemik selama aktivitas, mandi, maupun demam akan mencetuskan pirau kanan ke kiri dan menyebabkan hipoksemia.
Pemeriksaan elektrokardiogram dapat menemukan deviasi aksis ke kanan (+120° - +150°), hipertrofi ventrikel kanan atau kedua ventrikel, maupun hipertrofi atrium kanan. Kekuatan ventrikel kanan yang menonjol terlihat dengan gelombang R besar di sadapan prekordial anterior dan gelombang S besar di sadapan prekordial lateralis.
Pemeriksaan foto rontgen thorax dapat menemukan gambaran jantung berbentuk sepatu (boot-shaped heart/ couer-en-sabot) dan penurunan vaskularisasi paru karena berkurangnya aliran darah yang menuju ke paru akibat penyempitan katup pulmonal paru (stenosis pulmonal).
MRI dapat mengukur volume ventrikel kanan dan kiri, menilai jalur aliran darah ventrikel kanan, arteri pulmonal, aorta, defek septum ventrikel. MRI juga dapat menilai stenosis cabang arteri pulmonal yang berkontribusi dalam menyebabkan insufi siensi pulmonal dan kolateral aortopulmonal yang dapat menyebabkan overload volume ventrikel kiri. Hal ini sering dijumpai pada pasien yang disertai atresia pulmonal.
Ekokardiogram sangat membantu menginformasi diagnosis dan mengevaluasi beberapa masalah yang terkait dengan ToF. Pembesaran ventrikel kanan, defek septum ventrikel, overriding aorta, dan obstruksi saluran ventrikel kanan dapat ditampilkan secara jelas; dapat ditunjukkan shunting yang melewati VSD dan peningkatan kecepatan aliran Doppler yang melewati ventrikel kanan. Ukuran cabang utama arteri pulmonalis dan proksimal serta setiap aliran darah tambahan lain menuju ke paru dapat dievaluasi, tetapi arteri pulmonalis bagian distal tidak dapat dengan mudah dilihat oleh ekokardiogram.
Kateterisasi bukan pemeriksaan yang rutin; dapat dilakukan jika data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan koreksi bedah tidak dapat diperoleh dengan pemeriksaan penunjang lainnya. Penting untuk mendapatkan data saturasi oksigen arteri sistemik dan desaturasi berhubungan dengan stenosis saluran keluar ventrikel kanan. Tujuan kateterisasi jantung adalah untuk menilai ukuran anulus pulmonal dan arteri pulmonal, menilai keparahan obstruksi aliran darah ventrikel kanan, lokasi dan ukuran defek septum ventrikel, serta menyingkirkan kemungkinan anomali arteri koroner.
Angiografi merupakan bagian integral dari kateterisasi jantung. Angiografi paru juga harus dilakukan untuk mengetahui ukuran arteri pulmonalis utama dan cabang serta untuk menyingkirkan kemungkinan adanya stenosis cabang arteri pulmonal. Angiografi aorta juga diperlukan untuk memvisualisasikan anatomi arteri koroner, terutama untuk menyingkirkan adanya arteri koroner melintasi infundibulum ventrikel kanan (Riska, 2013).



9.      Penatalaksaan
Penatalaksanaan Tetralogi of Fallot
·         Posisi melipat tubuh dengan menarik lutut sampai dada dan pemberian oksigen serta morfin untuk memperbaiki oksigenasi
·         Pembedahan paliatif dengan prsedur Blalock-Taussig yang menghubungkan arteri subklavia dengan arteri pulmonalis untuk meningkatkan aliran darah ke dalam paru sehingga mengurangi hipoksia
·         Terapi profilaksis antibiotic untuk mencegah endorkarditis infeksiosa atau abses serebri
·         Flebotomi untuk mengurangi polisitemia
·         Pembedahan korektif untuk mengurangi stenosis arteri pulmonalis dan menutup VSD, yang akan mengarahkan aliran keluar ventrikel kiri ke dalam aorta

Pertimbangan khusus
·         Jelaskan pada orangtua tentang Tetralogi Fallot. Beri tahu orang tua bahwa anak akan menentukan sendiri batas-batas kemampuannya dalam melakukan aktivitas, dan kapan anak istirahat pastikan orang tua memahami bahwa anak mereka mampu melakukan aktivitas fisik dan sarankan agar tidak teralu protektif.
·         Ajarkan orang tua cara mengenali serangan hipoksia yang serius, yang secara dramatis memperberat gejaa sianosis, respisasi yang dalam dengan menarik nafas panjang, dan kehilangan kesadaran. Beritahu mereka untuk menempatkan anak dalam posisi knee-chest dan segera melaporkan kejadian tersebut.
·         Untuk mencegah endokarditis infeksiosa dan infeksi lain, ingatkan orang tua agar anak mereka dijauhkan dari orang yang menderita infeksi. Minta orang tua untuk menganjurkan anak merawat gigi dengan baikdan beri tahukan agar mengawasi kemungkinan infeksi pada telinga, hidung, serta tenggorok, dan karies gigi.
·         Jika anak memerlukan pertolongan medis untuk mengatasi masalah kesehatan yang tidak ada hubungan dengan penyakitnya, sarankan agar mereka memberitahu dokter yang akan menangani anak tersebut tentang riwayat tetralogi Fallot yang diderita anak.
·         Selama perawatan di rumah sakit, beritahu staff perawatan untuk siaga terhadap kondisi anak tersebut. Karena terdapat shunt kanan ke kiri mealui VSD, pemasangan IV harus diperlakukan sama seperti pemasangan kateter intraarteri. Ingat, bekuan darah yang lepas dari ujung kateter di dalam vena dapat memintas celah VSD dan menyebabkan emboli serebri. Hal yang sama dapat terjadi jika udara memasuki selang infuse intravena.

Sesudah pembedahan paliatif
·         Pantau oksigenasi dan hasil pemeriksaan gas darah arteri dengan ketat dalam ruang perawatan intensif
·         Jika anak sudah menjalani operasi Blalock-Taussig, jangan gunakan lengan yang ada di sisi tubuh yang dioperasi untuk mengukur TD, memasang infuse, atau mengambil sampel darah karena perfusi darah pada nadi ini masih sangat kurang sebelum sirkulasi kolateral terbentuk. Catatlah hal ini pada rekam medis anak dan pada papan informasi yang diletakkan di samping tempat tidurnya.
Sesudah pembedahan korektif :
·         Awasi kemungkinan timbul gangguan hantaran atrioventrikuler yang lebih serius, amati juga denyut ektopik ventrikel
·         Waspadai kemungkinan timbul           komplikasi pasca bedah yang lain, seperti perdarahan, gagal jantung kanan, gagal napas.
·         Pantau tekanan atrium kiri secara langsung.
·         Cek warna kulit dan tanda-tanda vital dengan sering.nlakukan pemeriksaan anallisis gas darah secara teratur untuk menilai oksigenasi.
·         Pantau dan catat asupan dan keluaran cairan dengan akurat
·         Jika terjadi blok atrioventrikuler disertai frekuensi jantung yang rendah, pemasangan alat pacu jantung temporer mungkin diperlukan.
·         Jika tekanan darah atau curah jantung tidak adekuat, dokter dapat memprogramkan pemberian katekolamin melalui infuse IV yang kontinu. Untuk mengurangi beban kerja vintrikel kiri, berikan nitropussid sesuai instruksi dokter.
·         Informasikan terus kepada orang tua semua informasi tentang perkembangan anak. Sepulang dari RS anak biasa diberikan obat digoksin, diuretic, dan lain-lain. Tekankan pentingnya mematuhi aturan pengobatan yang diberikan dokter, dan pastikan orang tua sudah benar-benar mengetahui cara serta kapan memberikan obat-obat tersebut. Ajarkan orang tua cara mengawasi gejala intoksikasi digoksin (anoreksia, nausea, vomitus). Sarankan kepada orang tua untuk tidal terlalu protektif pada anak ketika toleransi anak terhadap aktivitas fisik semakin baik.
(Kowalak, 2002)

10.  Komplikasi
·         Trombosis pulmonal, biasanya terjadi pada vena serebralis atau sinus dura dan kadang-kadang pada arteri serebralis, lebih sering bila ada polisitemia berat. Paling sering terjadi pada penderita di bawah 2 tahun
·         Endokarditis bakterialis, terjadi pada penderita yang tidak dioperasi pada infundibulum ventrikel kanan atau pada katup pulmonal, katup aorta dan jarang pada katup trikuspid
·         Polisitemia
·         Abses otak
·         Anemia relatif
·         Infark serebral (umur < 2 tahun)
·         SBE
·         DC kanan jarang
·         Perdarahan oleh karena trombositopenia
(SC Greenway et al., 2007)

11.  Pencegahan

Pencegahan Tetralogi Fallot adalah antara lain dengan menghindari penyebabnya. Meskipun untuk faktor endogen tidak dapat dicegah, namun sedapat mungkin ibu menghindari faktor-faktor eksogen yang dapat menyebabkan tetralogi fallot. Antara lain dengan melakukan ante-natal health care secara teratur selama masa kehamilan, tidak mengkonsumsi obat-obatan tanpa persetujuan atau izin dokter karena dapat berpengaruh terhadap kesehatan janin. Selain itu  juga, tidak mengkonsumsi alkohol maupun obat-obatan terlarang selama masa kehamilan.
·         Pemenuhan nutrisi yang baik pada ibu hamil
·         usia maksimal ibu prenatal tidak lebih 40 tahun
·         Menghindari pajanan sinar x.














DAFTAR PUSTAKA


Ruslie, Riska Habriel & Darmadi. 2013. Diagnosa dan Tata Laksana Tetralogy of Fallot. CDK-202/ vol. 40 no. 3. Lampung: RSUD ZA Pagar Alam, Kabupaten Way Kanan. http://www.kalbemed.com/Portals/6/07_202Diagnosis%20dan%20 Tata%20Laksana%20Tetralogy%20of%20Fallot.pdf. Diakses pada 21 April 2015
SC Greenway et al. 2007. “De Novo Copy Number Variants Identify New Genes and Loci in Isolated, Sporadic Tetralogy of Fallot.” Nature Genetics 41, 931 935 (2009). M Silberbach, D Hannon.“Presentation of Congenital Heart Disease in the Neonate and Young Infant”. Pediatrics in Review. Vol 28, No. 4
Anderson, et al. 2002. Pediatric Cardiology. Edisi 2, Vol 2. Churchill Livingstone
Kowalak, Jennifer P. 2003. Buku Ajar Patofisologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Pettersen , Michael D. 2014. Tetralogy of Fallot With Pulmonary Stenosis. (online).http://emedicine.medscape.com/article/2063480-overview#aw2aab6b2b2. Diakses pada tanggal 21 April 2015.



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEART FAILURE